Rabu, 02 Februari 2011

Silsilah Pertama Tauhidullah Adalah Haq Allah Terhadap Hamba-HambaNYA

Ketahuilah olehmu – semoga Allah merahmatimu-, bahwa hal paling pertama yang Allah fardhukan terhadap semua hamba untuk mempelajari dan mengamalkannya sebelum sholat, zakat, shaum, hajji dan segala hal fardhu lainnya, adalah TAUHID. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka ketahuilah! Bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Dan bahwa pada dasarnya Allah Ta'ala tidak menciptakan mereka kecuali untuk merealisasikan hal yang agung ini. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56), yaitu supaya mereka mentauhidkan-Ku (mereka mengabdi/beribadah HANYA kepada-Ku saja. Dan ia adalah makna LAA ILAAHA ILLALLAH, dimana ia bermakna bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah saja.

Dan bahwa ia adalah tujuan yang karenanyalah diutus para Rosul. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan Jauhilah Thoghut itu!” (QS. An Nahl 36), dan firman-Nya: “Sembahlah Allah dan Jauhilah Thoghut!” itu adalah makna kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH. Karena ia meliputi AnNafyu (peniadaan/penghapusan/pembuangan/penolakan terhadap semua macam sesembahan/ tempat pengabdian) dan Al Itsbat (penetapan, yaitu penetapan bahwa hanya Allah saja satu-satunya yang haq dan berhak menjadi ilah/sesembahan tempat tercurahnya segala bentuk ibadah dan pengabdian&ketaatan para hamba). Di mana (yang menunjukkan) nafyu adalah pada kalimat LAA ILAAHA, dan (yang menunjukkan) itsbat adalah pada kalimat ILLALLAH.

Dan LAA ILAAHA (tidak ada ilah yang haq) adalah mengandung makna sikap menjauhi/menolak segala yang diibadahi selain Allah, yaitu Thoghut [1]) bila ia ridho dengan peribadatan tersebut; dan ILLALLAH (kecuali hanya Allah saja) adalah mengandung makna penetapan bahwa segala ibadah/pengabdian/ketaatan hanyalah kepada Allah saja satu-satunya. Dan untuk merealisasikan kalimat syahadat yang agung ini maka harus lengkap menggabungkan sekaligus antara nafyu dan itsbat. Karena jika hanya nafyu saja, itu adalah kekafiran dan ta’thil (pengguguran/pengosongan/ penghapusan) adanya Ilah/ sesembahan. Namun jika hanya itsbat saja tanpa adanya nafyu, maka itu adalah tidak mencukupi karena ia bias memungkinkan terkandungnya keimanan (pengakuan) kepada sesembahan-sesembahan lain selain Allah Ta'ala. Sehingga jika hamba menggabungkan relisasi antara NAFYU dan ITSBAT sekaligus maka bermakan ia hanya beribadah kepada Allah saja satu-satunya dan ia berlepas diri (menolak, menjauhi, mengingkari, menentang, antipati) kepada segala sesembahan yang diibadati selain Allah. Maka baru dengan sikap begitulah ia merealisasikan tauhid yang dibawa oleh semua Rosul. Allah Ta’ala berfirman:

Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-perintahNya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya, yaitu : “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasannya tidak ada Sesembahan (yang Haq) melainkan AKU, maka hendaklah kalian bertaqwa kepadaKU” (QS. An Nahl : 2)

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rosul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasannya tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah (ibadahilah) Aku!” (QS.Al Anbiya: 25)

Dan dalam As Sunnah, sabda Nabi Shalallahu alahi wassalam: “Sesuatu yang paling utama yang diucapkan oleh aku dan para Nabi sebelumku adalah LAA ILAAHA ILLALLAH” (HR. Al Bukhari)

Dan karena sebab tujuan yang paling agung ini terjadilah pertentangan antara para Rosul dengan kaum-kaum mereka, dan di dalamnya terjadilh perseteruan, al wala, al baro’, kecintaan, kebencian, loyalitas dan permusuhan. Dan karenanya banyak para nabi dibunuh dan disakiti, serta karenanya para sahabat disiksa dan diintimidasi di Mekkah sebelum diwajibkan sholat, zakat, hajji, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rosul) dari kalangan mereka, dan orang-orang kafir berkata, “ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.” Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” (QS. Shood: 4-5)

Firman Allah Ta’ala tentang ucapan kaum musyrikin dalam hal pengingkaran mereka terhadap urusan terbesar yang dibawa Nabi Shalallah alahi wasalam : “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja??” adalah juga menunjukkan makna dari ungkapan di ayat lain, “Sembahlah Allah saja dan jauhilah Thoghut itu!>>, dan ia adalah makna Laa ilaaha illallah.

Dan inilah Al Urwah Al Wutsqo yang Allah telah menjamin bagi hamba-hambaNya bila mereka berpegang teguh padanya, bahwa ia tidak akan putus, dan keselamatan tidak akan terwujud kecuali dengan berpegang teguh padanya. Allah Ta’ala berfirman:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa kafir kepada thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang sangat kokoh yang tidak akan putus” (QS.Al Baqoroh 256).

Firman-Nya: ‘Barangsiapa KAFIR KEPADA THOGHUT’ adalah wujud penafian yang dikandung/dimaksud oleh Laa ilaaha. Dan firmanNya ‘dan BERIMAN KEPADA ALLAH’ adalah itsbat yang dikandung/dimaksud oleh illallah.

Al Urwah Al wutsqo (buhul tali yang sangat kokoh kuat) yang mana seseorang tidak akan selamat kecuali dengan berpegang teguh kepadanya adalah Laa Ilaaha illallah.

Dan itu dikarenakan, sesungguhnya buhul tali keimanan itu sangat banyak, sedangkan manusia ada yang memegang itu seluruhnya atau sebagiannya. Ada yang memegang buhul tali sholat saja, ada yang memegang buhul tali shodaqoh dan amal-amal kebaikan saja, akan tetapi hal itu semuanya tidak cukup untuk keselamatan tanpa al urwah al wutsqo. Jadi tidak ada keselamatan selamanya kecuali bila al urwah al wutsqo yang agung ini (laa ilaaha illallah) terealisasi sebelum buhul-buhul tali iman lainnya. Karena tanpa al urwah al wutsqo maka buhul-buhul tali yang lain itu tidak akan diterima. Oleh karena itu, Fir’aun sesungguhnya ketika menyaksikan kebinasaannya dan ia tenggelam maka ia tidak memegang atau berlindung kecuali dengannya, akan tetapi hal itu terjadi setelah keadaannya terlambat. Allah Ta’ala berfirman:

“Hingga ketika Fir’aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil (yakni Allah), dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Yunus: 90).

Dan karena agungnya posisi tauhid ini maka sungguh telah sah dari hadits Nabi Shalallahu alahi wassalam bahwa seandainya langit dan bumi seluruhnya ditaruh di satu sisi timbangan, dan Laa Ilaaha Illallah di sisi yang lain, tentulah laa ilaaha illallah itu lebih berat dari langit dan bumi seluruhnya itu.

Oleh sebab itu tidak ada di sana suatu yang lebih agung dalam menolak bencana daripada tauhid, ini buktinya bahwa do’a saat mengalami kesulitan adalah: [Allah, Allah, Allah adalah Robb-ku dan aku tidak menyekutukan seorang pun denganNYA] dan oleh sebab itu para Nabi –sedangkan mereka itu adalah orang yang paling mengetahui dan paling paham- mereka itu saat dalam kondisi sulit bersandar pada tauhid dan bertawassul kepada Allah dengannya, karena mereka mengetahui bahwa di sana tidak ada yang lebih agung kedudukannya di sisi Allah dari padanya. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi-Nya Yunus alahis salam:

“Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dholim.” Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa 87-88).

Bila Engkau telah memahami apa yang telah lalu, yaitu pentingnya tauhid (laa ilaaha illallah) serta keagungan posisi dan kedudukannya, dan bahwa maknanya adalah mentauhidkan Allah dengan seluruh ibadah, yaitu bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadati kecuali Allah, maka wajib atas kamu mempelajari makna ‘ibadah agar kamu bias mentauhidkannya secara total bagi Allah dan kamu MENJAUHI PERIBADATAN selainNya dengan bentuk ibadah apapun, sehingga kamu merealisasikan tauhid secara sempurna.

Dan begitu juga wajib atas kamu memahami makna syirik yang merupakan lawan tauhid supaya kamu menjauhinya.

Dan ketahuilah sebelum itu, bahwa laa ilaaha illallah memiliki banyak syarat yang mana ia tidak sah kecuali dengannya

Tidak ada komentar: