Minggu, 06 Februari 2011

Antara Ridha dan Pasrah

Ridha berasal dari kata radhiya-yardha yang berarti menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Sedangkan menurut istilah, ridha berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi menjadi dua macam. Yaitu, ridha Allah kepada hamba-Nya dan ridha hamba kepada Allah (Al-Mausu'ah Al-Islamiyyah Al-'Ammah: 698). Ini sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firman-Nya, ''Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.'' (QS 98: 8).

Ridha Allah kepada hamba-Nya adalah berupa tambahan kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah ialah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.

Dari definisi ridha tersebut terkandung isyarat bahwa ridha bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya. Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa, kita dituntut untuk ridha. Dalam artian kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman, ''Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.'' (QS 13: 11).

Hal ini berarti ridha menuntut adanya usaha aktif. Berbeda dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Walaupun di dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun di sana dituntut adanya usaha untuk mencapai suatu target yang diinginkan atau mengubah kondisi yang ada sekiranya itu perkara yang pahit. Karena ridha terhadap aturan Allah seperti perintah mengeluarkan zakat, misalnya, bukan berarti hanya mengakui itu adalah aturan Allah melainkan disertai dengan usaha untuk menunaikannya.

Begitu juga ridha terhadap takdir Allah yang buruk seperti sakit adalah dengan berusaha mencari takdir Allah yang lain, yaitu berobat. Seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khathab ketika ia lari mencari tempat berteduh dari hujan deras yang turun ketika itu. Ia ditanya, ''Mengapa engkau lari dari takdir Allah, wahai Umar?'' Umar menjawab, ''Saya lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain.''

Dengan demikian, tampaklah perbedaan antara makna ridha dan pasrah, yang kebanyakan orang belum mengetahuinya. Dan itu bisa mengakibatkan salah persepsi maupun aplikasi terhadap makna ayat- ayat yang memerintahkan untuk bersikap ridha terhadap segala yang Allah tetapkan. Dengan kata lain pasrah akan melahirkan sikap fatalisme. Sedangkan ridha justru mengajak orang untuk optimistis. Wallahu a'lam.

anarindu.blogspot.com: JIKA AKU JATU CINTA

anarindu.blogspot.com: JIKA AKU JATU CINTA

Ya Allah ampunkan mata ini yang dengan sengaja menikmati hal-hal yang bukan hak kami, mohon ampun ya Rabbi.Ya Allah, gerakkan hati kami untuk mencari tontonan yang mengajarkan kebaikan kepada kami, yang meneguhkan hati dan iman kami, gerakkan hati kami ya Allah, ampuni mata kami yang dengan liar menikmati tontonan maksiat itu ya Rabbi Tidak sadar, jam didinding telah menunjukkan pukul 06.00, saat dimana aku dan suamiku harus segera beranjak dari nikmatinya tontonan maksiat itu dan segera pergi ke tempat kerja, untuk menyambung hidup keluarga dan anakku tercinta. Setelah sebentar menggendong si buah hati dan menciumnya secara bergantian, aku dan suamikupun beranjak pergi, dengan mengucapkan Assalamu'alaikum dan da..da..buat si kecil. Setelah beberapa meter dari rumah, Astagfiruulah.. Ya allah, aku lupa menyebut nama-Mu untuk mengawali hariku pun tidak terucapkan doa saat aku harus pergi! Ampunkan kealpaanku ya Rabbi, ampun keteledoranku ya Kudus, ampuni kami yang sombong dan terlalu mengejar dunia. Setelah ingat aku baca doa sambil jalan bergegas, ya Allah.aku lupa lagi, tidak meniatkan kepergianku untuk beribadah kepada-Mu ya Allah. Hanya rutinitas, rutinitas dan rutinitas, lupa lagi lupa lagi, selalu dan selalu, ampunkan kami ya Allah, janganlah Engkau bosan menegur kami ya Kudus, ya Rahman ya Rahim.. Kuniatkan aku bekerja untuk mencari nafkah terlebih untuk beribadah kepada Allah sekedar membantu suami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan mencari karir atau popularitas diri. Setelah sampai di kantor, aku langsung menarik kursiku, kududuki dan ya Allah. aku lupa lagi!!! Ya Allah.aku tidak mengucapkan syukur Alhamdulillah sementaraEngkau telah mengantarku sampai dikantor dengan selamat, ampun lagi ya Rabb. Walau terlambat kusebut juga nama-Mu ya Allah, terlambat.dan selalu terlambat. Rutinitas kerja membuat aku harus konsentrasi sampai sering melupakan-Mu ya Rabb. Bahkan dalam bekerja sering emosi meletup-letup hanya masalah sepele saja, tak pernah terpikir olehku secara sadar bahwa kerjaku sesungguhnya hanya pantas untuk mengharapkan keridhoan-Mu. Kadang, selain urusan kantor juga urusan rumah tangga yang sebenarnya tidak perlu aku sikapi dengan emosi tinggi, tapi karena kebodohanku secara tidak sadar aku sering menyelesaikan masalah rumah tanggaku dengan emosi dan amarah. Bahkan sering menyakiti hati suamiku yang seharusnya aku patuhi setelah aku mematuhi-Mu ya Allah. maafkan aku suamiku, pembimbing hidup, ampunkan aku ya Rabb, selalu dan selalu tidak pernah menyadari bahwa hidupku hanya pantas mengharapkan ridho'-Mu karena segalanya adalah milik-Mu.

JIKA AKU JATU CINTA

Allahu Rabbi aku minta izin

Bila suatu saat aku jatuh cinta

Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang

Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi

Aku punya pinta

Bila suatu saat aku jatuh cinta

Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas

Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi

Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta

Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan

kasih-Mu

dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi

Bila suatu saat aku jatuh hati

Pertemukanlah kami

Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi

Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati

Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku

Anugerahkanlah aku cinta-Mu...

Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !

Mampukah aku ya Rabb

Pagi ini, kembali aku terpekur dengan kesepianku
Kesepian? Barangkali aneh, karena aku memiliki seorang anak yang lucu, suami yang baik, adik-adik yang baik, seorang Ibu yang mencintaiku, tapi masih juga aku merasa kesepian.

Ah, barangkali aku terlalu rakus menikmati dunia ini
Hingga jarang ucap syukur keluar dari mulutku
Yang ada hanya keluh dan kesah tanpa melihat betapa kenikmatan itu telah banyak aku rengkuh

Ya Allah, izinkan aku memohon kepada-Mu ya Rabb
Ampunkan aku ya Kudus, setiap detikku selalu ada perbuatan makisat yang entah kusengaja atau tidak

Pagi bangun tidur aku melakukan aktivitas rutin. Bangun pagi (walau kadang-kadang malas), ngeloyor ke dapur dengan setengah sadar, kuambil cerek (tempat rebus air minum) dan kutuang air, kuputar tombol kompor gas, kusiapkan tiga cangkir bersih yang kutaruh teh celup di dalamnya.

Sambil menunggu air mendidih aku mandi dan selesai mandi kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan pertamamku, menuang air ke cangkir dilanjutkan menuang air untuk mandi suamiku tercinta. Mengambil handuk adalah tugas berikutnya yang aku lakukan dan membangunkan sang raja (saya suka memakai istilah ini karena saya begitu mencitai suami) dari peraduannya untuk segera membasuh sekujur tubuhnya, sementara suami ke kamar mandi, aku menyempatkan diri untuk menghadap Illahi, Rabb, Tuhan yang memiliki hidupku. Tidak lama, hanya sekitar 3 sampai 5 menit.

Ya, Allah..
Ampunkan hamba ya Rabbi, yang hanya menyisihkan sedikit waktuku untuk-Mu
Dari sejak mata ini terbuka saat bangun pagi
Sampai mata ini harus terpejam lagi untuk mengambil jatah istirahatku
Rasanya lebih banyak maksiat yang kulakukan dari pada mengingat Engkau ya Allah

Sambil bersiap berangkat kerja, televisi pun sudah mulai ditonton, apa yang ditonton? Lebih banyak hiburan-hiburan yang menonjolkan aurat, lebih banyak pandangan-pandangan indah yang mengarah ke jalan kemaksiatan, suguhan sarapan pagiku bukan suguhan yang menambah Iman dan Islam, tetapi jauh mengarah untuk meninggalkan akidah. Sungguh pintar para pelaku bisnis di bidang pertelevisian, mereka menjeratku dan keluarga bahkan keluarga-keluarga yang lain dengan santapan yang tidak disadari akan menjauhkan kita dari akidah, hal-hal yang menuntun kita untuk mengikuti kehendak setan.
Lagi-lagi dada yang terbuka, kepala perempuan gundul plontos, paha-paha yang sengaja dipamerkan, pantat yang sengaja ditonjolkan, Astagfirullah..

Ya Allah ampunkan mata ini yang dengan sengaja menikmati hal-hal yang bukan hak kami, mohon ampun ya Rabbi.
Ya Allah, gerakkan hati kami untuk mencari tontonan yang mengajarkan kebaikan kepada kami, yang meneguhkan hati dan iman kami, gerakkan hati kami ya Allah, ampuni mata kami yang dengan liar menikmati tontonan maksiat itu ya Rabbi

Tidak sadar, jam didinding telah menunjukkan pukul 06.00, saat dimana aku dan suamiku harus segera beranjak dari nikmatinya tontonan maksiat itu dan segera pergi ke tempat kerja, untuk menyambung hidup keluarga dan anakku tercinta. Setelah sebentar menggendong si buah hati dan menciumnya secara bergantian, aku dan suamikupun beranjak pergi, dengan mengucapkan Assalamu'alaikum dan da..da..buat si kecil.

Setelah beberapa meter dari rumah, Astagfiruulah.. Ya allah, aku lupa menyebut nama-Mu untuk mengawali hariku pun tidak terucapkan doa saat aku harus pergi! Ampunkan kealpaanku ya Rabbi, ampun keteledoranku ya Kudus, ampuni kami yang sombong dan terlalu mengejar dunia.

Setelah ingat aku baca doa sambil jalan bergegas, ya Allah.aku lupa lagi, tidak meniatkan kepergianku untuk beribadah kepada-Mu ya Allah. Hanya rutinitas, rutinitas dan rutinitas, lupa lagi lupa lagi, selalu dan selalu, ampunkan kami ya Allah, janganlah Engkau bosan menegur kami ya Kudus, ya Rahman ya Rahim..

Kuniatkan aku bekerja untuk mencari nafkah terlebih untuk beribadah kepada Allah sekedar membantu suami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan mencari karir atau popularitas diri. Setelah sampai di kantor, aku langsung menarik kursiku, kududuki dan ya Allah. aku lupa lagi!!!

Ya Allah.aku tidak mengucapkan syukur Alhamdulillah sementara
Engkau telah mengantarku sampai dikantor dengan selamat, ampun lagi ya Rabb. Walau terlambat kusebut juga nama-Mu ya Allah, terlambat.dan selalu terlambat.

Rutinitas kerja membuat aku harus konsentrasi sampai sering melupakan-Mu ya Rabb. Bahkan dalam bekerja sering emosi meletup-letup hanya masalah sepele saja, tak pernah terpikir olehku secara sadar bahwa kerjaku sesungguhnya hanya pantas untuk mengharapkan keridhoan-Mu. Kadang, selain urusan kantor juga urusan rumah tangga yang sebenarnya tidak perlu aku sikapi dengan emosi tinggi, tapi karena kebodohanku secara tidak sadar aku sering menyelesaikan masalah rumah tanggaku dengan emosi dan amarah.

Bahkan sering menyakiti hati suamiku yang seharusnya aku patuhi setelah aku mematuhi-Mu ya Allah. maafkan aku suamiku, pembimbing hidup, ampunkan aku ya Rabb, selalu dan selalu tidak pernah menyadari bahwa hidupku hanya pantas mengharapkan ridho'-Mu karena segalanya adalah milik-Mu.

Tiba-tiba bunyi bel tanda istirahat siang sudah dimulai, tepat jam 12.00 security selalu mengingatkan kami, tapi...kenapa tak dengar suara adzan ya???
Ya Allah.aku lupa lagi, bukan bergegas menuju mushola untuk sejenak mengingat-Mu, tapi malah asyik masyuk dengan game di komputerku.
Bentar lagi ah.bisik hatiku.lagi seru nih..walau perut keroncongan tetap saja nekat main game. Tak sadar bel sudah bunyi lagi, belum sholat?? Belum makan? Sebentar lagi bos datang ngajak meeting? Ya Allah mana dulu nih????? Daripada sholat dulu tapi perut lapar, sholat gak kusyuk, makan dulu ah.pikirku begitu.

Selesai makan.aduh kenyang banget..ya Allah.aku lupa lagi tidak menyebut asma-Mu saat suap demi suap mulai masuk ke dalam mulutku, bahkan sampai akhir pun lupa tidak kuucap Alhamdulillah.ampun aku ya Allah.aku lupa lagi. Bergegas, akhirnya aku sholat juga, walau hanya sebentar dan tidak kusyuk karena sudah terbayang sederet problem yang akan dibahas di dalam forum meeting.

Masuk ruang meeting, ternyata sampai habis sholat ashar baru selesai, sholatku telat lagi ya Allah..sebentar lagi jam setengah enam, menjelang maghrib. Ah.aku harus bergegas pulang karena buah hatiku sudah menanti, pun tidak ingin dianggap tidak memperhatikan suami dan anak karena terlalu sering pulang telat.

Nekat kukejar bis yang melaju agak perlahan dan ups.lompat aku bisa juga nyangkut dipinggir pintu bis penuh sesak, berdiri...tak apalah yang penting cepet sampai rumah walau keringat bercucuran.

Ya Allah.maghribku hilang...di atas jalan tol di bis yang penuh sesak, ah siapa tahu masih dapat waktu walau hanya 5 menit menjelang isya'. Tapi.ternyata sudah lewat isya' baru sampai rumah, permataku sudah tidur, bahkan pada saat aku coba mengganggu suamiku suka menegurku agar tidak diganggu, kasihan katanya. Apa boleh buat, aku urungkan niatku sesuai nasehat suamiku, walau hati ini teriris..aku sangat merindukan buah hatiku...

Aku mandi, makan malam sama suami (itu kalau suamiku sabar menungguku), sebentar nonton TV kalau gak terlalu capek, masuk kamar langsung tidur. Ya Allah.aku sering lupa sholat isya...tidur sampai pagi, sampai aku harus mengulangi lagi aktivitasku. Sedikit waktuku untuk berbagi dengan permataku, sedikit waktuku berbagi dengan suami tercintaku bahkan lebih sedikit lagi waktuku untuk mengingat -Mu ya Allah..ampunkan aku.ampunkan aku.ampunkan aku ya Allah....

TANDA-TANDA ILMU YANG BERMANFAAT

Ilmu yang bermanfaat dapat diketahui dengan melihat kepada pemilik ilmu tersebut. Di antara tanda-tandanya adalah:

[1]. Orang yang bermanfaat ilmunya tidak peduli terhadap keadaan dan kedudukan dirinya serta hati mereka membenci pujian dari manusia, tidak menganggap dirinya suci, dan tidak sombong terhadap orang lain dengan ilmu yang dimilikinya.

Imam al-Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullaah mengatakan, “Orang yang faqih hanyalah orang yang zuhud terhadap dunia, sangat mengharapkan kehidupan akhirat, mengetahui agamanya, dan rajin dalam beribadah.” Dalam riwayat lain beliau berkata, “Ia tidak iri terhadap orang yang berada di atasnya, tidak sombong terhadap orang yang berada di bawahnya, dan tidak mengambil imbalan dari ilmu yang telah Allah Ta’ala ajarkan kepadanya.” [1]

[2]. Pemilik ilmu yang bermanfaat, apabila ilmunya bertambah, bertambah pula sikap tawadhu’, rasa takut, kehinaan, dan ketundukannya di hadapan Allah Ta’ala.

[3]. Ilmu yang bermanfaat mengajak pemiliknya lari dari dunia. Yang paling besar adalah kedudukan, ketenaran, dan pujian. Menjauhi hal itu dan bersungguh-sungguh dalam menjauhkannya, maka hal itu adalah tanda ilmu yang bermanfaat.

[4]. Pemilik ilmu ini tidak mengaku-ngaku memiliki ilmu dan tidak berbangga dengannya terhadap seorang pun. Ia tidak menisbatkan kebodohan kepada seorang pun, kecuali seseorang yang jelas-jelas menyalahi Sunnah dan Ahlus Sunnah. Ia marah kepadanya karena Allah Ta’ala semata, bukan karena pribadinya, tidak pula bermaksud meninggikan kedudukan dirinya sendiri di atas seorang pun. [2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) rahimahullaah membagi ilmu yang bermanfaat ini -yang merupakan tiang dan asas dari hikmah- menjadi tiga bagian. Beliau rahimahullaah berkata, “Ilmu yang terpuji, yang ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah adalah ilmu yang diwariskan dari para Nabi, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan mereka tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” [3]

Ilmu Ini Ada Tiga Macam:

[1]. Ilmu tentang Allah, Nama-Nama, dan sifat-sifat-Nya serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Contohnya adalah sebagaimana Allah menurunkan surat al-Ikhlaash, ayat Kursi, dan sebagainya.

[2]. Ilmu mengenai berita dari Allah tentang hal-hal yang telah terjadi dan akan terjadi di masa datang serta yang sedang terjadi. Contohnya adalah Allah menurunkan ayat-ayat tentang kisah, janji, ancaman, sifat Surga, sifat Neraka, dan sebagainya.

[3]. Ilmu mengenai perintah Allah yang berkaitan dengan hati dan perbuatan-perbuatan anggota tubuh, seperti beriman kepada Allah, ilmu pengetahuan tentang hati dan kondisinya, serta perkataan dan perbuatan anggota badan. Dan hal ini masuk di dalamnya ilmu tentang dasar-dasar keimanan dan tentang kaidah-kaidah Islam dan masuk di dalamnya ilmu yang membahas tentang perkataan dan perbuatan-perbuatan yang jelas, seperti ilmu-ilmu fiqih yang membahas tentang hukum amal perbuatan. Dan hal itu merupakan bagian dari ilmu agama. [4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) rahimahullaah juga berkata, “Telah berkata Yahya bin ‘Ammar (wafat th. 422 H), ‘Ilmu itu ada lima:

(1). Ilmu yang merupakan kehidupan bagi agama, yaitu ilmu tauhid

(2). Ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu tentang mempelajari makna-makna Al-Qur-an dan hadits

(3). Ilmu yang merupakan obat agama, yaitu ilmu fatwa. Apabila suatu musibah (malapetaka) datang kepada seorang hamba, ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah itu, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu

(4). Ilmu yang merupakan penyakit agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan

(5). Ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang sepertinya.’

Rabu, 02 Februari 2011

Hidupku, Bahagia dan Laraku: Cinta Dalam Hati

Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa di cintai
Tak mengapa bagiku
Asalkan kaupun bahagia dalam hidupmu, dalam hidupmu

Terlama lama kupendam perasaan itu
Menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku
mencintaimu adalah bahagia untukku, bahagia untukku

Kuingin kau tau
Diriku disini menanti dirimu
meski kutunggu hingga ujung waktu ku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya.
dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja,
tuk ucapkan slamat tinggal untuk slamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja

Cinta Sejati

Perpisahan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan hidup. Semua harus tetap berjalan, tak peduli penuh penyesalan dan kesedihan. Mungkin aku menanti, mungkin cinta telah mati, atau mungkin cinta sejati, tapi saat sendiri kehidupan harus terus dijalani dengan sepenuh hati.

Undangan itu, bukan berarti ku tak lagi mencintaimu. Bukan pula berarti ku tak mencintai dengan ia yang inisial namanya dirangkai dengan inisial namaku. Dulu pun aku tak mengerti, bahwa cinta sejati bisa tetap tersimpan, sambil terus berjalan menyongsong masa depan.

Pada akhirnya, cinta sejati hanya dapat dirasakan oleh yang mengalami. Sebab hati punya kita sendiri, sebab hidup harus terus dijalani.

: Indahnya Hidup Bila Hati Yang Bicara :.

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur ?
Kenapa kita menutup mata ketika kita menangis ?
Kenapa kita menutup mata ketika kita membayangkan sesuatu ?
Kenapa kita menutup mata ketika kita berciuman ?
Hal hal yang terindah di dunia ini biasanya tidak terlihat

Ada hal hal yang tidak ingin kita lepaskan
dan ada orang orang yang tidak ingin kita tinggalkan
Tapi ingatlah, melepaskan bukan berarti akhir dari dunia
melainkan awal dari kehidupan yang baru

Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah tersakiti
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah mencari dan telah mencoba

Karena merekalah yang bisa menghargai
Betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka

Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli
terhadapnya
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya
dengan setia
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih
bisa tersenyum
sambil berkata , ” Aku turut berbahagia untukmu ”

Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu
Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam
bebas lagi
Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya..

Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal
Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Entah bagaimana, dalam perjalanan kehidupanmu,
Kamu akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kamu akan
menyadari
Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada di dalam hidupmu
Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah
kau buat
Yang seharusnya ada di dalam hidupmu

Sahabat sejati akan mengerti ketika kamu berkata, ” Aku lupa ”
Sahabat sejati akan tetap setia menunggu ketika kamu berkata, ”
Tunggu sebentar ”
Sahabat sejati hatinya akan tetap tinggal, terikat kepadamu
ketika kamu berkata, ” Tinggalkan aku sendiri ”

Saat kamu berkata untuk meninggalkannya,
Mungkin dia akan pergi meninggalkanmu sesaat,
Memberimu waktu untuk menenangkan dirimu sendiri,
Tetapi pada saat saat itu, hatinya tidak akan pernah meninggalkanmu
Dan sewaktu dia jauh darimu, dia akan selalu mendoakanmu dengan air
mata

Lebih berbahaya mencucurkan air mata di dalam hati
daripada air mata yang keluar dari mata kita
Air mata yang keluar dari mata kita dapat dihapus,
Sementara air mata yang tersembunyi,
Akan menggoreskan luka di dalam hatimu
yang bekasnya tidak akan pernah hilang

Walaupun dalam urusan cinta, kita sangat jarang menang,
Tetapi ketika cinta itu tulus…
meskipun mungkin kelihatannya kamu kalah,
Tetapi sebenarnya kamu menang karena kamu dapat berbahagia
sewaktu kamu dapat mencintai seseorang
Lebih dari kamu mencintai diri kamu sendiri…

Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang
Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita
Atau karena ia tidak mempedulikan kita
Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu
Akan lebih berbahagia apabila kita melepasnya
Tetapi apabila kamu benar benar mencintai seseorang,
Jangan dengan mudah kita melepaskannya
Berjuanglah demi cintamu… Fight for your dream !
Itulah cinta yang sejati..
Bukannya seperti prinsip ” Easy come.. Easy go… ”

Lebih baik menunggu orang yang benar benar kamu inginkan
Daripada berjalan bersama orang ” yang tersedia ”
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai
Daripada orang yang berada di ” sekelilingmu ”

Lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidup ini terlalu berharga dan terlalu singkat
Untuk dibuang dengan hanya ” seseorang ”
Atau untuk dibuang dengan orang yang tidak tepat

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang paling
menyakiti hatimu
Dan kadang kala teman yang membawamu di dalam pelukannya
Dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari

Ucapan yang keluar dari mulut seseorang
Dapat membangun orang lain, tetapi dapat juga menjatuhkannya
Bila bukan diucapkan pada orang, waktu, dan tempat yang benar
Ini jelas bukan sesuatu yang bijaksana

Ucapan yang keluar dari mulut seseorang
Dapat berupa kebenaran ataupun kebohongan untuk menutupi isi hati
Kita dapat mengatakan apa saja dengan mulut kita
Tetapi isi hati kita yang sebenarnya tidak akan dapat dipungkiri

Apabila kamu hendak mengatakan sesuatu..
Tataplah matamu di cermin dan lihatlah kepada matamu
Dari situ akan terpancar seluruh isi hatimu
Dan kebenaran akan dapat dilihat dari sana

Tuh kan bener. nangiskan????

Kelebihan Umat Nabi Muhammad

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan seluruh orang muslim yang senantiasa mengagungkan sunnahnya hingga akhir masa.

Beruntungkah kita menjadi umatnya Nabi Muhammad ? Menjadi umat Nabi Muhammad bisa dibilang sangat beruntung.

Ada beberapa alasan, diantaranya :

Umat Nabi Muhammad SAW kalau berbuat salah tidak langsung disiksa oleh Allah SWT, melainkan ditunggu sampai di akhirat nanti, kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat. berbeda dengan umat sebelum nabi Muhammad SAW, jika mereka berbuat salah Allah langsung memberikan Adzab secara langsung didunia, tidak ditunggu dulu sampai diakhirat, bisa kita lihat cerita kaum kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dll, seperti yang tercantum dalam Surat At-Taubah : 70.

"Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah ? Telah datang kepada mereka Rasul-Rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri."(QS. At-Taubah: 70)

Kaum sebelum Nabi Muhammad SAW tidak diberikan lipatan pahala yang luar biasa oleh Allah SWT. Umat Nabi Muhammad SAW oleh Allah SWT diberikan lipatan pahala yang sangat luar biasa sehingga Umat Nabi Muhammad SAW bisa menandingi ibadahnya hamba-hamba Allah

yang pilihan sebelum datangnya diutusnya Nabi Muhammad SAW dimuka bumi ini. Lipatan pahala bagi umatnya nabi Muhamad SAW seperti yang tercantum dalam surat Al-Qadr. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Dari Ali bin Urwah, Rasulullah SAW pada suatu hari bercerita tentang 4 orang dari kaum Bani Israel mereka beribadah pada Allah SWT selama 80 tahun tidak maksiat sekejap matapun,

Rasulullah menyebutkan orang-orang itu : Ayyub, Zakariyya, hizqiil bin Ajuuz dan yusak bin Nuun. Ali berkata para sahabat heran dengan apa yang diceritakan oleh Rasulullah

Kemudian Jibril datang pada Rasulullah SAW, Jibril berkata “Ya Muhammad, umatmu heran pada ibadahnya orang-orang itu yang selama 80 tahun tidak maksiat sekejap matapun. Sungguhsungguh Allah SWT telah menurunkan yang lebih baik dari itu”. Kemudian Jibril membacakan untuk Rasulullah “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan,

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Ini lebih baik dari apa-apa yang engkau dan umatmu herankan”. Ali berkata Rasulullah dan manusia yang bersamanya disenangkan oleh penjelasan tersebut. (HR. Ibnu Abi Hatim)

Beruntunglah bagi umat Nabi Muhammad SAW diberikan kesempatan oleh Allah ta'la untuk bisa menyamai amal ibadah orang-orang terdahulu. bila sampai menjumpai lailatul qodar dalam keadan mempersungguh beribadah pada Allah dengan cara tadarus, tahajud, dzikir ditambah iktikaf, dia malam itu tidak melakukan maksiat sekejap matapun, maka ia telah bisa menyamai para orang-orang Shalih terdahulu. (wallahu a’alam).

Untuk mencari Lailatul Qodar sendiri Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk untuk memudahkan umatnya mendapatkan malam yang fenomenal itu.

sederhana itu indah

Seseorang yang berpenampilan sederhana mungkin lebih dihargai dan dihormati,apalagi kalau dia seorang pembesar atau atasan kita atau bahkan seorang pemimpin negara.Dia selalu santun,sederhana sudah cukup membuat kita merasa segan.Image yang ada akan berbeda bila sang pemimpin yang glamour rasa segannya pun akan berbeda,dapat darimana duitnya??…hasil korupsi kah ?…Menjalani hidup bersama dengan orang miskin walaupun kita kaya, mendengarkan jeritan kaum dhuafa dan hidup sederhana walaupun kita mampu adalah ciri pemimpin yang qona’ah. Itu semua karena kita sadar bahwa sederhana itu indah!

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikanawan kepada hujan yang menjadikannya tiada…”

…ternyata kata2 yang sederhana barangkali juga jadi jurus ampuh mencairkan hati!

Bukankan seorang murid tidak butuh penjabaran yang rumit dan njlimet,cukup dengan jawaban sederhana dan langkah langkah yang praktis mungkin akan mudah dipahami.Prinsip ini diterapkan hampir semua bimbingan belajar untuk menarik minat siswa… ternyata sederhana itu ampuh menarik seseorang!

Terkadang hidup kita terasa susah rumit dan menyengsarakan,mungkin yang salah bukan hidup tetapi cara berfikir kita,bila kita mau berfikir lebih sederhana mungkin akan berkurang beban hidup ini.bahwasanya rezeki mati dan jodoh sudah diatur oleh yang maha kuasa dan setiap cobaan yang datang kepada kita tak lain hanyalah ujian yang telah ditakar kadarnya sesuai kemampuan kita..

Mari mencoba melatih pola pikir sederhana ,hidup sederhana,menyelesaikan masalah dengan sederhana, menulis ,menginventarisir persoalan dan menyelesaikannya satu-persatu. Seperti kata pepatah bahwa sebenarnya THE TRUTH IS SIMPLE.

Pernah suatu hari pak bupati berkunjung ke sebuah persawahan,disana beliau menyapa sekelompok petani yang sedang istirahat makan siang,bersama2 nereka pak bupati mencoba menikmati makanan yang disuguhkan,cukup dengan tempe dan sayur memang tapi beliau merasa belom pernah makan seenak ini sebelumnya,knp?..mungkin bukan resep atau hidangannya yang dasyat tapi justru kesederhanaan dan kebersamaan ini yang menumbuhkan hormon enak.Barang kali pak bupati terbiasa makan di restauran dengan menu yang wahh…tata ruang yang menarik dan meja yang bersih namun yang dirasakan adalah biasa saja mungkin konsentrasi bukan pada makanannya tapi memikirkan bagaimana rapat hari ini,beberapa proposal yang mesti di tandatangani,belum acara ini itu yang menguras pikiran.Bandingkan dengan pak petani yang cukup mikir sekarang mencangkul ya besuk makan,cukup senang melihat padi yang sudah mulai menguning…Ternyata dengan berfikir sederhana tahu bisa berasa daging.

Setidaknya kalau kita mau berpola hidup sederhana,mungkin uang yang sedianya kita gunakan untuk berglamour,shopping atau beli barang2 mewah cukup buat ditabung untuk kebutuhan yang laen atau bahkan membantu orang yang membutuhkan

Seorang muslimah yang sederhana,berkerudung,santun pakaian dan tingkahlakunya dibandingkan wanita yang berdandan menor memakai aksesoris ini itu.Mari kita bandingkan,secara kasat mata sama cantiknya tetapi indahnya berbeda,kesannya akan lain dan mungkin sikap kita pun lain ketika bertemumuka dengannya.ketika seorang laki2 bertemu wanita yang cantik karena aksesoris mungkin sendauguraunya berbeda dengan ketika bertemu wanita yang cantik karena sederhana.

Akhirnya kita tahu bahwa sederhana itu indah,Sederhana itu kekuatan,sederhana itu dambaan dan sederhana itu sesuai pribadi muslim

MENITI JALAN MENUJU SURGA SEIRING CURAHAN KASIH DARI SANG PENGUASA ...hanya sedikit goresan Tinta demi sebuah pahala.

Sungguh akan Kami Berikan Cobaan Kepadamu

Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah. Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan kita teringat bahwa itupun merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada diantara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang tegar menghadapinya.

Al-Qur'an mengajarkan kita untuk berdo'a: "Ya Tuhan kami, jangnlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya..."(QS 2: 286)

Do'a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kurang harta dan lainnya.

Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari membunuh hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah. Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke "orang pintar" agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke "kursi" yg lebih empuk. Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan sadaqoh.

Al-Qur'an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah berfirman: "Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS 2: 155)

Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi bukan orang yang menang atau orang yang gagah....tapi orang yang sabar! Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, "yah..sabar kan ada batasnya..." Atau lidah kita berseru, "sabar sih sabar...saya sih kuat tidak makan enak, tapi anak dan isteri saya?" Memang, manusia selalu dipenuhi dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri. Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada ayat di atas: "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". (Qs 2: 156)

Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering mengucapkan kalimat "Inna lillahi...." Orang sabar-kah kita? Nanti dulu! Andaikata kita mau merenung makna kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.

Arti kalimat itu adalah : "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali." Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat biasa. Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka-maupun duka, diuji atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al-Qur'an! Ikhlaskah kita bila mobil yang kita beli dengan susah payah hasil keringat sendiri tiba-tiba hilang. Relakah kita bila proyek yang sudah didepan mata, tiba-tiba tidak jadi diberikan kepada kita, dna diberikan kepada saingan kita. Berubah menjadi dengki-kah kita bila melihat tetangga kita sudah membeli teve baru, mobil baru atau malah pacar baru. Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.... Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, ditengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al-Qur'an: "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Dalam sebuah hadis qudsi Allah berkata: "Siapa yang tak rela menerima ketentuan-Ku, silahkan keluar dari bumi-Ku!" Subhanallah..... "inna lillahi wa inna

MENGAPA ALLAH TA'ALA MENIMPAKAN ADZAB ATAS HAMBANYA

Telah kita pahami bersama makna dan seluk-beluk berkenaan dengan adzab Allah Ta'ala. Tetapi dalam hal ini ada sedikit kerancuan dalam perkara perbedaan antara adzab Allah dengan cobaan-Nya. Kerancuan tersebut bisa menjadi sebab timbulnya anggapan yang keliru terhadap adzab Allah Ta'ala dan cobaan-Nya sehingga melemahkan semangat untuk mengambil pelajaran dari kedua peristiwa tersebut (yakni peristiwa datangnya adzab dan peristiwa datangnya cobaan dari Allah). Atau bahkan menimbulkan kesalahpahaman terhadap kedua peristiwa tersebut. Karena itu wajib kita mengerti, apa itu cobaan Allah dan apa perbedaannya dengan adzab-Nya.

Cobaan Allah itu hanya terhadap kaum Mu'minin. Bila kita membaca beberapa ayat dalam Al-Qur'an dan beberapa hadits Nabi shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam yang berkenaan dengan musibah yang ditimpakan oleh Allah Ta'ala terhadap kaum Mu'minin. Maka kita akan melihat kenyataan bahwa cobaan Allah itu adalah rahmat Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang Mu'minin untuk menaikkan derajat hamba-Nya ke tingkat yang lebih tinggi. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya sebagai berikut:

"Tidaklah Allah akan biarkan kaum Mu'minin seperti yang kalian berada padanya sekarang, sehingga Allah pisahkan orang-orang yang jelek dari orang-orang yang baik. Dan tidaklah Allah menjadikan kalian mengetahui perkara ghaib. Akan tetapi Allah memilih dari Rasul-Rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki untuk mengetahui perkara yang ghaib. Oleh karena itu, berimanlah kalian kepada Allah dan kepada Rasul-Rasul-Nya. Maka bila kalian beriman dan bertaqwa, maka bagi kalian akan mendapatkan pahala yang besar." (QS. Ali Imran ayat 179)

Juga Allah Ta'ala menyatakan:

"Dan sungguh Kami akan menguji kalian, sehingga Kami melihat siapa dari kalian yang benar-benar sebagai mujahidin (orang-orang yang berjihad) dan siapa pula dari kalian yang benar-benar sebagai orang-orang yang sabar, dan Kami sungguh-sungguh akan membeberkan isi hati kalian." (QS. Muhammad ayat 31)

Bahkan Allah Ta'ala menegaskan bahwa cobaan-cobaan-Nya yang ditimpakan kepada kaum Mu'minin itu adalah untuk sebagai jalan dilimpahkannya rahmat dan marghfirah (ampunan Allah Ta'ala) serta hidayah-Nya (petunjuk-Nya):

"Dan sungguh-sungguh Kami akan uji kalian dengan ketakutan, dan kelaparan, serta kekurangan harta, kematian dan kekurangan hasil pertanian. Dan beri kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang bila mereka ditimpa suatu musibah, mereka akan menyatakan: Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami semua akan kembali kepada-Nya. Mereka itu akan mendapatkan limpahan shalawat dari Tuhan mereka, dan mereka akan mendapatkan rahmat dari-Nya. Dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari-Nya." (QS. Al-Baqarah ayat 155-157).

Lebih jelas lagi Rasulullah shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam menerangkan dalam sabda beliau sebagai berikut:

"Sesungguhnya besarnya pahala itu beserta besarnya malapetaka, dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah timpakan kepada mereka berbagai malapetaka. Maka barangsiapa yang ridha dengan ketentuan Allah itu maka dia akan diridhai oleh Allah. Dan barangsiapa murka dengan ketentuan-Nya itu, maka dia akan dapat murka-Nya." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lainnya dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah As-Syaikh Nashiruddin Al-Albani juz 1 hal 276 no. 146)

Juga telah diterangkan oleh Rasulullah shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam dalam sabda beliau berikut ini:

"Orang-orang yang paling berat malapetakanya ialah para Nabi, kemudian yang semisalnya, kemudian yang semisalnya. Seseorang itu ditimpa oleh berbagai malapetaka sesuai dengan kadar agamanya. Maka bila dia adalah orang yang kuat dalam berpegang dengan agamanya, maka malapetakanya akan sesuai dengan kadar kelemahannya. Maka tidak akan henti-hentinya malapetaka pada hamba Allah itu sehingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak berdosa." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, At-Thahawi, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan lain-lainnya. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah As-Syaikh Nashiruddin Al-Albani juz 1 hal 273 no. 143).

Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid I al-qismul awwal hal 275 menerangkan makna hadits diatas sebagai berikut: "Dan di dalam hadits-hadits tersebut di atas, kita dapati dalil yang jelas yang menunjukkan bahwa seorang Mu'min itu setiap bertambah kuat imannya, maka akan bertambah malapetakanya dan cobaannya. Dan bila sebaliknya, tentu keadaanya juga sebaliknya. Dan di dalam hadits-hadits tersebut terdapat bantahan terhadap orang-orang yang lemah akal dan pikirannya, yang menyangka bahwa seorang Mu'min bila ditimpa malapetaka; seperti dipenjara atau diusir dari negerinya atau dipecat dari kepegawaian dan yang semisalnya; dianggap yang demikian itu sebagai bukti bahwa orang Mu'min tersebut tidak diridhai oleh Allah Ta'ala! Dan sangkaan yang demikian itu adalah sangkaan yang batil. Kita lihat bagaimana Rasulullah shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam yang beliau adalah seutama-utama manusia, namun beliau mengalami malapetaka yang paling dahsyat dari kalangan manusia, bahkan kalangan para Nabi. Maka dari itu malapetaka itu pada umumnya sebagai pertanda kebaikan dan bukan sebagai peringatan adanya kejelekan sebagaimana ditunjukkan oleh hadits ini."

Bedanya Adzab Allah dengan Cobaan-Nya

Dengan kita telah mengetahui adzab Allah Ta'ala itu ditimpakan kepada siapa dan cobaan-Nya ditimpakan kepada siapa pula, maka perlu disini kita merenung sejenak tentang hikmah yang Allah Ta'ala sediakan di balik adzab dan cobaan-Nya. Antara lain kita dapat menyibak firman Allah Ta'ala berikut ini:

"Bila kalian ditimpa luka-luka dalam peperangan itu, maka sungguh-sungguh kaum musuhmu juga ditimpa luka semisalnya. Dan demikianlah, hari-hari menang dan kalah itu Kami gilirkan di antara sekalian manusia. Agar Allah melihat siapa dari kalian itu sebagai orang-orang yang beriman dan agar Allah memilih para syuhada' (orang-orang yang terbunuh dalam peperangan membela agama Allah) dari kalangan kalian. Dan Allah tidak suka dengan orang-orang yang berbuat dhalim. Dan juga agar Allah membersihkan barisan orang-orang yang beriman serta Allah binasakan dengannya orang-orang kafir." (QS. Ali Imran ayat 140-141)

Tegaslah dengan demikian bahwa malapetaka itu bila menimpa orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia adalah cobaan-Nya untuk membersihkan mereka dari berbagai dosa yang menimpanya. Sedangkan malapetaka yang menimpa orang-orang kafir dan orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia adalah adzab Allah untuk membinasakan dan menghancurkan mereka. Wallahu a'lamu bish-shawab.

Akhlak Mulia - Sebuah Solusi Penyembuh Penyakit Secara Islami

bismillah Tak bisa dipungkiri bahwa sejak jaman dulu kesehatan adalah suatu hal yang paling utama dan paling dicari oleh manusia. Karena dengan tubuh yang sehat maka aktivitas sehari-hari akan terasa nyaman. Hidup juga akan terasa lebih tenang. Lain halnya bila tubuh kita terserang penyakit maka aktivitas sehari-hari akan terganggu dan luapan emosional akan lebih mudah muncul sehingga kita akan lebih mudah marah, mudah jengkel dan membuat hidup semakin tidak nyaman.

Menurut penelitian terkini dari negara-negara maju ditemukan bahwa penyakit-penyakit fisik yang ada sekarang ini 53% penyebabnya adalah berasal dari factor psikis atau kejiwaan yang berawal dari pola berpikir dan bertindak kita sehari-hari. Bisa berawal dari tekanan atau banyaknya pekerjaan dikantor, problematika rumah tangga, lingkungan dan lain sebagainya yang akhirnya tanpa disadari akan memacu kerja otak dan emosional seseorang secara berlebihan dan akhirnya muncul berbagai penyakit yang menderanya. Kemudian diikuti oleh faktor-faktor lain yaitu 18% dari faktor keturunan, 19% faktor lingkungan, 10% pelayanan kesehatan.

Menurut Islam semua musibah atau bencana yang mendera manusia adalah disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri, baik itu berupa penyakit, kecelakaan, kehilangan, bencana alam, bahkan hingga kematian. Hal ini sudah sesuai dengan firman Allah QS. An-Nissa, 4 : 79 yang berbunyi:

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri…………….”

Jelaslah sekarang bagi kita bahwa menurut Islam bukan hanya 56% tapi hampir 100% penyakit itu awalnya dari perbuatan kita sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai hubungan suami dengan isteri dan anak, isteri dengan suami dan anak, anak dengan orangtua. Dimana sering terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan emosi masing-masing pihak muncul kepermukaan.

Misal suami pulang terlambat kerumah karena sedang banyak perkerjaan, isteri bukannya bertanya dengan baik kenapa suaminya pulang terlambat malah berpikir dan menuduh suaminya macam-macam.

Demikian juga bila suami merasa kurang dilayani dengan baik oleh isteri bukannya memberitahu dan membimbing dengan baik malah langsung marah-marah dan berkata kasar.

Anak juga demikian bila mempunyai keinginan minta dibelikan sesuatu akan memaksa tanpa melihat kondisi orang tua sehingga orangtua akan kelabakan mencarikan dana untuk menuruti keinginan anak.

Itu hanya masalah rumah tangga saja, belum lagi nanti masalah dilingkungan tempat tinggal kita, lingkungan pekerjaan, dimana akan banyak masalah yang menyebabkan emosi kita mudah terpancing dan muncul kepermukaan. Dan hal itu sudah jamak kita dengar dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang dipandang wajar, padahal mengumbar emosi sebenarnya adalah suatu hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Tapi tanpa kita sadari hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala itulah yang sering menghiasi keseharian kita.

Disatu sisi kita berusaha agar rajin sholat, rajin mengaji, menjalankan puasa wajib maupun sunnah, berqurban, berzakat atau mungkin berhaji dengan hanya berharap pahala dari Sang Khaliq tapi tanpa kita sadari pula disisi lain dengan kita mengumbar hawa nafsu (baca: emosi) hanya akan menyebabkan kita akan semakin jauh dari jalan Allah Ta’ala.

Sebenarnya itulah yang menyebabkan Allah SWT memberikan peringatan kepada kita (misal penyakit) agar kita mau kembali ke jalan yang benar, jalan yang dirahmati dan diridhoi Alah SWT. Dan ini sesuai dengan firman Allah QS. Yunus, 10 : 57 yang berbunyi:

”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”

Beriman disini maksudnya agar kita mau mengimani ayat-ayat Allah SWT yaitu Al-Qur’an. Mengimani berarti percaya, percaya berarti mau mengerti dan memahami lalu melaksanakan apa-apa yang tertulis di Al-Qur’an, sehingga dengan demikian insyaallah Allah SWT akan berkenan melimpahkan rahmatNya, memberi kesembuhan atas penyakit yang diderita dan menjauhkan kita dari segala marabahaya, amin.

Selama ini jika kita sakit banyak hal yang kita usahakan agar bisa sembuh seperti pergi ke dokter, minum obat, minum jamu, pijat, pergi ke tabib atau bahkan kerokan. Itu semua adalah hal yang wajar, itu adalah bentuk ikhtiar kita dalam rangka mencari kesembuhan. Bahkan pengobatan yang telah lama ada di dunia seperti meminum madu pun adalah termasuk ikhtiar dan madu adalah merupakan salah satu obat yang memang disebut Allah Ta’ala bisa menyembuhkan penyakit seperti yang tersebut dalam QS. An-Nahl , 16 : 69 yang berbunyi:

“…………..Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan”

Semua yang kita lakukan seperti yang tersebut diatas adalah bentuk ikhtiar kita dalam mencari kesembuhan tapi ada satu bentuk ikhtar yang sering kita lupakan. Kita sering lupa berikhtiar untuk segera kembali pada jalanNya, bersegera memohon ampunan atas dosa-dosa kita dan memohon agar diberi kesembuhan.

Sebenarnya penekanan Allah SWT adalah kepada perbaikan akhlak kita sebagai umat manusia, hamba Allah yang diharapkan ketakwaannya setiap hari, setiap waktu terus bertambah dan bertambah sehingga bisa dimasukkan ke dalam golongan hamba hamba Allah yang muttaqien, amien.

Akhlak disini adalah perilaku kita sehari-hari, perilaku seorang muslim yang seharusnya mencerminkan semangat rahmatan lil ‘alamin. Selalu membawa kedamaian, kebahagiaan dan ketentraman dimana saja dan buat siapa saja. Perilaku yang tidak menyimpang dan sesuai dengan ayat-ayat Allah Ta’ala.

Contoh perilaku yang menyimpang dari ajaran yang sering kita lakukan tanpa kita sadari adalah keseharian kita dalam bertindak yang mungkin mudah marah atau jengkel bila ada suatu masalah, mudah putus asa, ghibah, merasa pendapat kita yang paling benar, tidak mau mendengarkan nasehat orang lain dan lain sebagainya.

Dimana bila perilaku itu kita lakukan terus menerus dalam kehidupan kita sehari-hari, walaupun awalnya merupakan dosa kecil tapi bila kita lakukan setiap hari dan sudah bertahun-tahun lamanya maka akan menjadi dosa besar, dimana dari perilaku kita yang kurang terpuji (baca : aklak yang kurang baik) akan menjadikan Allah SWT menurunkan peringatan kepada kita berupa penyakit.

Contoh kasus penyakit dengan perilaku:

* Pusing sebelah kiri : cenderung sering suudzon

* Batuk : sering berbicara dengan nada yang tinggi dan mengebu

* Sesak nafas/Asma : sering menahan marah.

* Telinga berdenging/vertigo/tuli : tidak mau mendengar nasehat orang lain

* Kanker hati : cenderung mempunya sifat yang sangat kaku

Semoga ini bisa menjadi bahan perenungan bagi kita semua dan menjadikan suatu semangat bagi kita semua untuk berbenah diri kearah yang lebih baik, lebih sujud kepada Allah SWT, amien.

Kiat Menggapai Akhlak Mulia

. Memetik Pelajaran dari Orang-Orang yang Bergaul Dengannya

Orang yang memiliki ketajaman berpikir dan cita-cita yang mulia tentunya selalu berusaha untuk bisa memetik pelajaran dari setiap orang yang bergaul dengannya. Banyak orang yang dapat mempelajari tentang bagaimana seharusnya menjaga kehormatan dan berakhlak mulia ketika dia menjumpai orang-orang yang justru memiliki perilaku yang buruk dan tercela. Bahkan terkadang orang akan bisa belajar dari perilaku hewan yang dilihatnya.

. Melatih Diri untuk Tetap Bersikap Adil Ketika Mengalami Sesuatu yang Menyenangkan

Sudah semestinya bagi orang yang berakal dan mendambakan akhlak yang mulia untuk berusaha untuk tetap bersikap adil dalam kondisi senang maupun susah. Sebab salah satu adab yang harus dipunyai oleh orang yang terhormat adalah senantiasa berbuat adil dalam kondisi senang ataupun susah.

Memahami Kondisi Orang Lain dan Menyesuaikan Dengan Akal Mereka

Hal ini merupakan bukti kecermatan orang dalam menilai dan mengatur urusan yang dihadapinya. Dan hal ini juga menunjukkan tentang baiknya sikap yang dia tempuh dalam memilih sarana kebaikan yang dia gunakan. Dengan sikap semacam ini maka seorang akan mudah menggapai keluhuran akhlak dan akan disenangi oleh orang lain. Manusia yang dihadapi itu beraneka ragam, oleh sebab itu masing-masing perlu disikapi dengan sikap yang tepat dan sesuai dengan kondisi orang yang bersangkutan. Tentu saja dengan batasan, selama hal itu tidak menyebabkan kebenaran dicampakkan dan kebatilan dipertahankan.

. Menjaga Adab Berbicara dan Adab Majelis

Di antara adab yang harus diperhatikan adalah mendengarkan dengan baik ketika orang lain berbicara. Jangan memotong pembicaraannya sebelum selesai, langsung mendustakannya, atau meremehkannya, atau terburu-buru melengkapi ucapannya yang dianggap kurang sempurna. Selain itu hendaknya juga dijauhi membicarakan tentang diri sendiri dalam rangka membangga-banggakan dirinya di hadapan orang. Hendaknya juga tidak mudah-mudah melontarkan komentar terhadap pembicaraan orang lain. Atau memberikan celaan secara merata kepada setiap orang. Atau mengulang-ulang pembicaraan tanpa ada faktor yang menuntut hal itu harus dilakukan. Termasuk sikap yang harus dijauhi adalah bertanya berlebihan atau terlalu berdalam-dalam dalam menanyakan suatu perkara tanpa keperluan. Selain itu hendaknya berbicara dengan menyesuaikan kondisi atau konteks pembicaraan. Hendaknya bersikap rendah hati terhadap orang yang diajak bicara. Begitu pula hendaknya mengucapkan salam ketika masuk ke dalam majelis atau ketika meninggalkannya. Tidak menyuruh orang lain yang sedang duduk untuk berdiri kemudian dia duduk di tempat tersebut. Tidak duduk di antara dua orang yang berdekatan kecuali dengan izin keduanya. Dan adab-adab yang lainnya.

. Menjaga Shalat

Memelihara shalat adalah sebab yang sangat agung untuk menggapai akhlak yang mulia, wajah yang berseri-seri dan jiwa yang tenang serta akan menjauhkan dari sifat-sifat rendah dan hina. Sebagaimana shalat juga dapat menghalangi pelakunya dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar. Dengan melakukan shalat secara benar maka akhlak yang buruk akan dapat dikendalikan. Shalat akan dapat menyembuhkan penyakit-penyakit hati semacam: pelit, dengki, suka mengeluh dan mencela, dan lain sebagainya.

Berpuasa

Melakukan puasa akan menyucikan jiwa. Puasa akan memperbaiki perilaku. Puasa akan menumbuhkan berbagai akhlak yang mulia dan terpuji semacam: penyayang, dermawan, suka berbuat baik, menyambung persaudaraan, bermuka ramah, dan lain sebagainya. Puasa akan meningkatkan cita-cita di dalam hati dan mengokohkan tekad serta mewujudkan ketenteraman. Puasa merupakan ajang untuk melatih diri menanggung sesuatu yang tidak disenangi oleh nafsu. Sebuah media untuk memanajemen diri. Puasa juga akan menggerakkan diri menuju kebaikan dan mengekang pelakunya dari perbuatan buruk.

. Membaca Al-Qur’an Dengan Merenungkan Isinya

Al-Qur’an mengandung petunjuk dan cahaya. Ia merupakan pedoman akhlak yang paling utama. Ia akan menuntun kepada kebenaran dan kebaikan. Kemuliaan akhlak merupakan bagian dari kebaikan yang ditunjukkan oleh al-Qur’an. Bahkan di dalamnya terdapat ayat yang merangkum berbagai macam akhlak yang mulia yaitu firman-Nya yang artinya, “Jadilah pemaaf, perintahkan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199). Al-Qur’an akan mendorong jiwa manusia untuk memiliki berbagai sifat kesempurnaan dan mengisinya dengan cita-cita yang agung.

. Menyucikan Jiwa Dengan Melakukan Ketaatan

Menyucikan jiwa dengan senantiasa melakukan ketaatan kepada Allah adalah sarana terbesar untuk meraih akhlak yang mulia. Allah berfirman yang artinya, “Sungguh beruntung orang-orang yang membersihkan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9).

. Senantiasa Menyimpan Rasa Malu

Rasa malu akan menjaga diri agar tidak melakukan perbuatan buruk dan mendorongnya untuk senantiasa melakukan kebaikan. Apabila seseorang menghiasi diri dengan sifat ini maka dia akan terpacu untuk meraih keutamaan-keutamaan dan terhambat dari perbuatan-perbuatan yang rendah dan hina. Rasa malu akan senantiasa melahirkan kebaikan. Ia merupakan bagian penting dari keimanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rasa malu tidaklah memunculkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga menyatakan, “Rasa malu adalah cabang keimanan.” (HR. Ibnu Majah). Beliau juga bersabda, “Salah satu ucapan pertama kali yang diperoleh manusia dari ajaran para nabi terdahulu adalah jika kamu tidak malu berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menebarkan Salam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) kecuali kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian, sesuatu yang apabila kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai, yaitu sebarkanlah salam di antara sesama kalian.” (HR. Muslim). Umar bin Khattab mengatakan, “Salah satu sebab yang akan memurnikan rasa suka saudaramu kepadamu ialah kamu selalu berusaha memulai mengucapkan salam kepadanya apabila bersua. Hendaknya kamu memanggilnya dengan panggilan yang paling disukai olehnya. Kamu lapangkan tempat duduk untuk menyambut kehadirannya.”

. Selalu Memperhatikan Perjalanan Hidup Nabi

Kisah perjalanan hidup Nabi akan menyajikan di hadapan pembacanya suatu gambaran yang indah mengenai petunjuk yang paling baik dan akhlak yang paling mulia untuk diterapkan oleh segenap umat manusia.

. Selalu Memperhatikan Perjalanan Hidup Para Sahabat

Para sahabat adalah orang-orang yang mewarisi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga akhlaknya. Dengan melihat kisah perjalanan hidup mereka akan dapat memacu jiwa untuk meneladani dan meniru kebaikan-kebaikan mereka.

Membaca Sejarah Hidup Orang-Orang yang Memiliki Keutamaan

Betapa sering orang terpacu dan bertekad kuat untuk memperbaiki akhlaknya karena membaca teladan perjalanan hidup orang-orang yang mulia. Karena dengan membaca biografi dan kisah perjalanan hidup mereka akan menggerakkan jiwa untuk meniru dan meneladani kebaikan mereka.

. Membaca Buku-Buku Tentang Sifat-Sifat Baik dan Akhlak

Dengan membaca buku-buku semacam itu maka orang akan selalu teringat dan terpacu untuk berakhlak mulia. Begitu pula sebaliknya, dia akan berusaha untuk menjauhi akhlak-akhlak yang tercela. Buku-buku seperti ini banyak sekali, di antaranya adalah:

1. Syama’il Muhammadiyah karya At-Tirmidzi

2. Kitab Adab yang ada di dalam kitab-kitab Sahih dan Sunan

3. Adabu Dunya wa Din karya Al-Mawardi

4. Raudhatul ‘Uqala’ wa Nuzhatul Fudhala’ karya Ibnu Hiban

5. Dan lain-lain

. Membaca Kata-Kata Bijak dari Ulama Terdahulu

Hikmah/kata-kata bijak adalah ucapan yang diriwayatkan dari ulama terdahulu, singkat akan tetapi membawa pengaruh yang dalam. Kata-kata bijak (hikmah) akan mendorong untuk berakhlak yang mulia dan memandunya dalam melangkah. Qais bin ‘Ashim suatu ketika pernah ditanya, “Apa yang mendorong kaummu menjadikanmu sebagai pemimpin?”. Beliau menjawab, “Karena tidak suka menyakiti, suka memberi, dan berjuang membela (agama) Allah.”

Mengenal Ungkapan dan Perumpamaan yang Indah

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihaat

Sebaik-baik Manusia menurut Hadist-Hadist Rasulullah

Manusia yang paling baik ialah yang paling baik ahklaknya.

Manusia yang paling baik adalah yang paling banyak membaca dan memahami agamanya, paling taqwa kepada ALLAH, yang paling banyak melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, dan paling suka menyambung tali persaudaraan.

Manusia yang paling baik ialah yang paling banyak manfaatnya untuk sesama manusia. Manusia yang paling baik ialah manusia yang paling baik dalam membayar hutangnya.

Manusia yang paling baik ialah manusia yang berhati tulus dan berlidah lurus.

Sahabat bertanya apa yang dimaksud berhati tulus ?

Rasul menjawab : hati yang taqwa, bersih tidak menyembunyikan dosa, tidak lalim dan tidak dengki.

Sesudah itu apa ?

Beliau menjawab, yang mengembangkan kehidupan dunia sambil tetap mencintai akhirat.

Ditanya lagi, sesudah itu apa ?

Rasul menjawab, mukmin dengan akhlaq yang baik.

Manusia yang paling baik ialah yang panjang usianya dan baik amalnya.

Yang paling baik diantara kamu ialah yang paling sederhana dalam dunia dan paling cinta kepada akhirat.

Yang paling baik diantata kamu adalah yang membela kepentingan keluarga selama tidak dalam dosa.

Yang paling baik diantara kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya.

Aku ( Rasul ) yang paling baik terhadap keluargaku, tidak akan memuliakan perempuan kecuali lelaki yang mulia, tidak merendahkan perempuan kecuali lelaki yang rendah pula.

Yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik terhadap isteri dan anak-anaknya.

Yang paling baik diantara kamu adalah yang selalu mempelajari Al’quran dan selalu mengajarkannya.

Yang paling baik diantara kamu adalah yang tidak meninggalkan akhirat karena dunianya dan tidak meninggalkan dunia karena akhiratnya dan tidak bergantung pada orang lain.

Yang paling baik diantara kamu ialah orang yang kalau kamu pandang mengingatkanmu kepada ALLAH, yang pembicaraannya menambah ilmu dan yang amalnya mengantarkanmu kepada akhirat.

Yang paling baik diantara ummatKu ialah orang yang bila engkau melihatnya engkau ingat kepada ALLAH.

Yang paling jahat diantara ummatKu ialah yang berjalan kesana kemari menyebarkan fitnah, mengadu domba orang yang saling mengasihi, berbuat kejam, menganggu orang tanpa tanggung jawab.

Yang paling baik diantara ummatKu ialah yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain ALLAH dan Aku adalah Rasulullah, yang apabila berbuat baik merasa bahagia,bila berbuat salah meminta maaf.

Yang paling jahat diantara ummatKu ialah yang lahir dan tumbuh besar ditengah kemewahan, lalu perhatiannya hanyalah macam-macam makanan, pakaian dan menyombongkan diri dalam pembicaraan.

Yang paling baik diantara ummatKu ialah para ulamanya.

Yang paling baik diantara ulamanya adalah yang paling penyanyang diantara mereka.

Ketahuilah, ALLAH akan mengampuni empat puluh orang alim sebelum mengampuni satu dosa orang jahil.

Yang paling baik diantara ummatKu adalah yang berdo’a sambil membawa manusia kepada kecintaan kepada-Nya.

Yang paling baik diantara orang islam ialah mereka yang orang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya.

Amal yang baik engkau tinggalkan dunia dalam keadaan lidahmua basah karena berzikir kepadaNya.

Amal yang paling baik adalah beriman pada ALLAH, kemudian berjihad, kemudian haji yang mabrur, cinta karena ALLAH, benci karena ALLAH, sholat pada waktunya dan berbuat baik pada orang tua, ilmu karena ALLAH.

Ilmu akan bermanfaat bersamamu dengan amalmu, baik amal itu sedikit maupun banyak.

Bekerja mencari nafkah secara halal, engkau masukan rasa bahagia kedalam hati saudaramu yang mukmin, engkau bayarkan hutangnya, engkau berikan dia makanan.

Amal yang paling utama iman pada ALLAH dan mencintai manusia.

Iman yang paling utama, engkau mencintai dan membenci karena ALLAH, engkau gerakan lidahmu untuk berzikir, engkau mencintai manusia seperti mencintai diri sendiri.

Engkau benci sesuatu menimpa manusia seperti engkau benci hal itu menimpa dirimu sendiri.

Engkau berkata baik atau diam.

Silsilah Pertama Tauhidullah Adalah Haq Allah Terhadap Hamba-HambaNYA

Ketahuilah olehmu – semoga Allah merahmatimu-, bahwa hal paling pertama yang Allah fardhukan terhadap semua hamba untuk mempelajari dan mengamalkannya sebelum sholat, zakat, shaum, hajji dan segala hal fardhu lainnya, adalah TAUHID. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka ketahuilah! Bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Dan bahwa pada dasarnya Allah Ta'ala tidak menciptakan mereka kecuali untuk merealisasikan hal yang agung ini. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56), yaitu supaya mereka mentauhidkan-Ku (mereka mengabdi/beribadah HANYA kepada-Ku saja. Dan ia adalah makna LAA ILAAHA ILLALLAH, dimana ia bermakna bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah saja.

Dan bahwa ia adalah tujuan yang karenanyalah diutus para Rosul. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan Jauhilah Thoghut itu!” (QS. An Nahl 36), dan firman-Nya: “Sembahlah Allah dan Jauhilah Thoghut!” itu adalah makna kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH. Karena ia meliputi AnNafyu (peniadaan/penghapusan/pembuangan/penolakan terhadap semua macam sesembahan/ tempat pengabdian) dan Al Itsbat (penetapan, yaitu penetapan bahwa hanya Allah saja satu-satunya yang haq dan berhak menjadi ilah/sesembahan tempat tercurahnya segala bentuk ibadah dan pengabdian&ketaatan para hamba). Di mana (yang menunjukkan) nafyu adalah pada kalimat LAA ILAAHA, dan (yang menunjukkan) itsbat adalah pada kalimat ILLALLAH.

Dan LAA ILAAHA (tidak ada ilah yang haq) adalah mengandung makna sikap menjauhi/menolak segala yang diibadahi selain Allah, yaitu Thoghut [1]) bila ia ridho dengan peribadatan tersebut; dan ILLALLAH (kecuali hanya Allah saja) adalah mengandung makna penetapan bahwa segala ibadah/pengabdian/ketaatan hanyalah kepada Allah saja satu-satunya. Dan untuk merealisasikan kalimat syahadat yang agung ini maka harus lengkap menggabungkan sekaligus antara nafyu dan itsbat. Karena jika hanya nafyu saja, itu adalah kekafiran dan ta’thil (pengguguran/pengosongan/ penghapusan) adanya Ilah/ sesembahan. Namun jika hanya itsbat saja tanpa adanya nafyu, maka itu adalah tidak mencukupi karena ia bias memungkinkan terkandungnya keimanan (pengakuan) kepada sesembahan-sesembahan lain selain Allah Ta'ala. Sehingga jika hamba menggabungkan relisasi antara NAFYU dan ITSBAT sekaligus maka bermakan ia hanya beribadah kepada Allah saja satu-satunya dan ia berlepas diri (menolak, menjauhi, mengingkari, menentang, antipati) kepada segala sesembahan yang diibadati selain Allah. Maka baru dengan sikap begitulah ia merealisasikan tauhid yang dibawa oleh semua Rosul. Allah Ta’ala berfirman:

Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-perintahNya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya, yaitu : “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasannya tidak ada Sesembahan (yang Haq) melainkan AKU, maka hendaklah kalian bertaqwa kepadaKU” (QS. An Nahl : 2)

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rosul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasannya tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah (ibadahilah) Aku!” (QS.Al Anbiya: 25)

Dan dalam As Sunnah, sabda Nabi Shalallahu alahi wassalam: “Sesuatu yang paling utama yang diucapkan oleh aku dan para Nabi sebelumku adalah LAA ILAAHA ILLALLAH” (HR. Al Bukhari)

Dan karena sebab tujuan yang paling agung ini terjadilah pertentangan antara para Rosul dengan kaum-kaum mereka, dan di dalamnya terjadilh perseteruan, al wala, al baro’, kecintaan, kebencian, loyalitas dan permusuhan. Dan karenanya banyak para nabi dibunuh dan disakiti, serta karenanya para sahabat disiksa dan diintimidasi di Mekkah sebelum diwajibkan sholat, zakat, hajji, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rosul) dari kalangan mereka, dan orang-orang kafir berkata, “ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.” Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” (QS. Shood: 4-5)

Firman Allah Ta’ala tentang ucapan kaum musyrikin dalam hal pengingkaran mereka terhadap urusan terbesar yang dibawa Nabi Shalallah alahi wasalam : “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja??” adalah juga menunjukkan makna dari ungkapan di ayat lain, “Sembahlah Allah saja dan jauhilah Thoghut itu!>>, dan ia adalah makna Laa ilaaha illallah.

Dan inilah Al Urwah Al Wutsqo yang Allah telah menjamin bagi hamba-hambaNya bila mereka berpegang teguh padanya, bahwa ia tidak akan putus, dan keselamatan tidak akan terwujud kecuali dengan berpegang teguh padanya. Allah Ta’ala berfirman:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa kafir kepada thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang sangat kokoh yang tidak akan putus” (QS.Al Baqoroh 256).

Firman-Nya: ‘Barangsiapa KAFIR KEPADA THOGHUT’ adalah wujud penafian yang dikandung/dimaksud oleh Laa ilaaha. Dan firmanNya ‘dan BERIMAN KEPADA ALLAH’ adalah itsbat yang dikandung/dimaksud oleh illallah.

Al Urwah Al wutsqo (buhul tali yang sangat kokoh kuat) yang mana seseorang tidak akan selamat kecuali dengan berpegang teguh kepadanya adalah Laa Ilaaha illallah.

Dan itu dikarenakan, sesungguhnya buhul tali keimanan itu sangat banyak, sedangkan manusia ada yang memegang itu seluruhnya atau sebagiannya. Ada yang memegang buhul tali sholat saja, ada yang memegang buhul tali shodaqoh dan amal-amal kebaikan saja, akan tetapi hal itu semuanya tidak cukup untuk keselamatan tanpa al urwah al wutsqo. Jadi tidak ada keselamatan selamanya kecuali bila al urwah al wutsqo yang agung ini (laa ilaaha illallah) terealisasi sebelum buhul-buhul tali iman lainnya. Karena tanpa al urwah al wutsqo maka buhul-buhul tali yang lain itu tidak akan diterima. Oleh karena itu, Fir’aun sesungguhnya ketika menyaksikan kebinasaannya dan ia tenggelam maka ia tidak memegang atau berlindung kecuali dengannya, akan tetapi hal itu terjadi setelah keadaannya terlambat. Allah Ta’ala berfirman:

“Hingga ketika Fir’aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil (yakni Allah), dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Yunus: 90).

Dan karena agungnya posisi tauhid ini maka sungguh telah sah dari hadits Nabi Shalallahu alahi wassalam bahwa seandainya langit dan bumi seluruhnya ditaruh di satu sisi timbangan, dan Laa Ilaaha Illallah di sisi yang lain, tentulah laa ilaaha illallah itu lebih berat dari langit dan bumi seluruhnya itu.

Oleh sebab itu tidak ada di sana suatu yang lebih agung dalam menolak bencana daripada tauhid, ini buktinya bahwa do’a saat mengalami kesulitan adalah: [Allah, Allah, Allah adalah Robb-ku dan aku tidak menyekutukan seorang pun denganNYA] dan oleh sebab itu para Nabi –sedangkan mereka itu adalah orang yang paling mengetahui dan paling paham- mereka itu saat dalam kondisi sulit bersandar pada tauhid dan bertawassul kepada Allah dengannya, karena mereka mengetahui bahwa di sana tidak ada yang lebih agung kedudukannya di sisi Allah dari padanya. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi-Nya Yunus alahis salam:

“Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dholim.” Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa 87-88).

Bila Engkau telah memahami apa yang telah lalu, yaitu pentingnya tauhid (laa ilaaha illallah) serta keagungan posisi dan kedudukannya, dan bahwa maknanya adalah mentauhidkan Allah dengan seluruh ibadah, yaitu bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadati kecuali Allah, maka wajib atas kamu mempelajari makna ‘ibadah agar kamu bias mentauhidkannya secara total bagi Allah dan kamu MENJAUHI PERIBADATAN selainNya dengan bentuk ibadah apapun, sehingga kamu merealisasikan tauhid secara sempurna.

Dan begitu juga wajib atas kamu memahami makna syirik yang merupakan lawan tauhid supaya kamu menjauhinya.

Dan ketahuilah sebelum itu, bahwa laa ilaaha illallah memiliki banyak syarat yang mana ia tidak sah kecuali dengannya

KONSISTENSI SEMANGAT HIDUP Mari kita telusuri yang faktor konsistensi semangat seseorang

Orang yang beriman memiliki kesadaran tinggi bahwa tujuan utama hidup adalah menggapai ridho Allah semata. Karena ia memahami bahwa hidup tak kekal, sementara, hanya senda gurau, permainan belaka. Sehingga dunia bukan menjadi prioritas hidup mereka, dunia bukan target hidup melainkan akherat (long term success). Karena orang beriman memahami dan meyakini akherat adalah lebih kekal dan kedudukan, kekayaan atau kesenangan yang diperoleh diakherat adalah kekal pula. Orang beriman tidak pernah dapat yakin apakah Allah ridha dengan amal perbuatan mereka disetiap waktu, dan apakah mereka telah memperlihatkan perilaku moral yang baik, yang membuat mereka layak mendapatkan surga. Karena alasan ini mereka takut akan hukuman Allah dan terus-menerus berusaha untuk menyempurnakan pikiran, ucapan, tindakan, usahanya atau amalnya. Orang beriman tahu bahwa melalui keimanan, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh ridha Allah, cinta-Nya dan rahmat-Nya. Orang-orang beriman mengesampingkan keuntungan material demi memperoleh ridha Allah dan surga. Mereka sadar bahwa mereka sedang diuji melalui harta dan diri mereka, dan bahwa Allah adalah pemilik sesungguhnya atas apa-apa yang diberikan di dunia ini. Akibatnya, Allah mungkin mengambil kembali apa yang telah Dia amanatkan kapan pun Dia menghendaki, karena Allah memegang kekuasaan mutlak atas segala sesuatu di alam semesta ini.

Orang beriman meyakini bahwa Allah memberikan surga bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, sehingga mendorong mereka untuk terus beramal dan memperkuat komitmennya. Keimanan mereka yang tulus memberi mereka semangat yang besar untuk berlomba-lomba dalam memperoleh ridha Allah.

Semangat orang-orang beriman bersemayam dalam hati. Hal ini disebabkan karena perjuangan untuk mendukung nilai-nilai mereka berlangsung seumur hidup dan hanya ditopang dengan semangat yang bersumber pada keimanan. Orang-orang beriman mengevaluasi peristiwa-peristiwa dengan kesadaran yang jernih. Mereka memahami, menyadari dan menyakini bahwa Allah senantiasa memperhatikan apa yang ada dalam rongga dada hati mereka, memperhatikan apa yang terpikirkan, terucapkan dan teramalkan dalam setiap waktu kehidupan mereka.

Orang yang bertakwa adalah mereka yang dengan kesadaran, pemahaman, dan keyakinan senantiasa berbuat kebaikan dengan optimal, karena itu merupakan suatu kewajiban sebagai manusia. Patuh dan taat pada segala perintah-Nya dan menjauhi apa-apa yang dilarang-Nya. Mereka yang menjadikan ketakwaan sebagai sumber penyemangat dalam hidup akan terlihat dari aktifitas mereka yang selalu memilih yang terbaik dan menjauhi segala keburukan baik untuk dirinya maupun kepada orang lain dan lingkungannya. Mereka selalu berusaha memperbaiki sesuatu yang buruk dan menjauhi sifat perusak. Mereka mengutamakan kepentingan Allah SWT daripada diri mereka. Mereka berserah diri dan menyerahkan apa yang dimiliki hanya untuk ibadah kepada-Nya. Mereka menghindari keuntungan material semata-mata ingin meraih keuntungan akherat.

2. Cinta kepada Allah

Bukti cinta adalah munculnya rasa takut dan harap.

Mereka yang dihatinya tumbuh kecintaan kepada Allah lebih utama daripada dunia akan berusaha terus menerus, tak menyerah untuk mendapatkan Cinta-Nya. Rasa takut mereka akan dijauhi, tidak diridhoinya segala amal membuat mereka senantiasa taat kepada segala perintah-Nya dan berusaha sekuat tenaga menjauhi apa yang dilarang-Nya. Tanpa rasa penyesalan, ikhlas berkorban harta dan jiwa. Mereka yang mencintai Allah akan akan terus berusaha tampil menjadi yang terbaik, setiap gerak, ucap dan pikiran hanya berorientasi, focus pada Allah. Mereka menginginkan kedekatan dan pertemuan dengan Kekasih hatinya. Orang beriman mengalami ketakutan dan harapan sekaligus; sehingga mereka bekerja keras tetapi tidak pernah merasa usaha mereka cukup dan tidak pernah menganggap diri mereka sempurna. Mereka akan berusaha menyenangkan Allah.

10 KARAKTERISTIK PERILAKU KONSISTEN SEMANGAT HIDUP

1. Fokus dalam ibadah untuk keridhoan Allah

2. Kewaspadaan terhadap kelalaian

3. Keinginan kuat untuk berlomba – lomba dalam kebaikan

4. Ikhlas dalam kerja

5. Sabar disaat musibah menimpa

6. Syukur saat kesenangan bersamanya

7. Memaafkan dan melupakan kesalahan orang padanya

8. Menjaga hati, pikiran, dan ucapan, serta perilakunya

9. Optimal memanfaatkan waktu hidup

10. Komitmen Mengutamakan kepentingan Allah dari lainnya

Antara Keyakinan, Pasrah, & Pertolongan Allah

Sebagai juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan bersikeras untuk tetap tidak ikut dalam evakuasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Keyakinan, kepasrahan atas kehendak dan pertolongan Allah akan datang membuat si mbah tetap berada di rumah, bahkan melaksanakan shalat di mushola.

Mungkin jika untuk kepentingan dan keyakinan si mbah sendiri tidak apa - apa, namun keyakinan ini juga diikuti oleh beberapa tetangganya, dan keyakinan ini juga membuat orang - orang yang peduli akan keselamatan si mbah harus meregang nyawa, ketika mencoba untuk menjemput dan memaksa si mbah untuk turun gunung.

Alkisah ada seorang ulama yang sangat alim dan taat beragama. Tiada hari ia lewatkan tanpa berdoa dan dzikir kepada Allah SWT. Ia pun sangat yakin bahwa kehidupan di dunia ini sangat kejam, dan hanya dengan perlindungan dan pertolongan Allah ia akan selamat.

Sampai suatu ketika, musibah terjadi. Banjir melanda tempat tinggal ulama tersebut. Ketika tinggi air masih setinggi Pinggang orang dewasa, sang ulama berdoa, ” Ya Allah, hanya Engkaulah yang mampu menyelamatkan hamba dari musibah ini. ” Kemudian ia berdzikir …. para tetangga sudah mengajak ulama itu untuk mengungsi namun ia bersikeras Allah akan menolongnya.

Sekarang, ketinggian air sudah meningkat, sehingga tidak dapat lagi kaki berpijak di tanah, sang ulama pun naik ke atas genteng rumahnya. Ia pun berdoa, ” Ya Allah, tidakkah Engkau peduli kepada hambamu ini, aku mohon Ya Allah tolonglah hamba keluar dari musibah ini. ” Lalu terdengarlah teriakan orang dari bawah … ” Hai Pak, mari ikut perahu karet kami, kemungkinan besar air akan menenggelamkan desa kita ” ” Tidak, terima kasih, ” begitu ulama membalasnya, dan perahu karet pun meninggalkan sang ulama.

Sampailah pada kejadian yang sudah diperkirakan, air bah datang dan menenggelamkan seluruh desa termasuk sang Ulama. Ketika ruhnya bertemu dengan Allah, ia pun bertanya ” Ya Allah, apakah amalan dan ibadah tidak ada artinya bagiMU, sehingga ketika aku membutuhkan pertolonganMU, Engkau tidak menjawab doa -doaku. “

Allah pun berkata, ” wahai fulan, sesungguhnya aku mendengar doa - doamu, dan aku telah mengabulkan doa - doa mu itu, namun sepertinya engkau tidak menyadari pertolongan yang telah Aku kirimkan. Pertama, aku suruh tetanggamu untuk mengajak dirimu pergi dari desa ketika keadaan masih memungkinkan dirimu untuk pergi dengan berjalan. Kedua, aku kirimkan orang - orang yang peduli dalam perahu karet untuk menjemputmu, namun engkau tetap tidak berkenan untuk ikut dengan mereka. “

Nahh … cerita ini mungkin bisa menjadi bahan renungan kita semua termasuk untuk si Mbah Juru Kunci Gunung Merapi. Pertolongan Allah mungkin datang bukan dalam bentuk tiba - tiba Gunung Merapi langsung tertidur, namun Allah menjawab doa dan memberikan pertolongan melalui tangan orang lain yang peduli dengan keselamatan orang lain.

Selasa, 01 Februari 2011

cintazilla@yahoo.co.id
Saudaraku yang dirahmati Allah, ada banyak persoalan yang menghadang di depan
kita. Entah itu msalah pribadi, keluarga atau pun yang lebih luas dari itu.
Sebanding dengan banyaknya masalah, banyak pula cara yang dapat kita lakukan
untuk menyelesaikannya. Bisa mengandalkan kecerdasan akal, kemampuan fisik,
harta kekayaan, relasi, atau apapun. Namun bagi saya sendiri, tidak ada yang
paling ampuh selain pertolongan Allah.

Mengapa pertolongan Allah? Tidak ada satu pun masalah yang terjadi, kecuali
atas izin Allah. Semuanya ada dalam genggaman Allah. Bila demikian, alangkah
mudahnya bagi Allah untuk membuka jalan kemudahan bagi siapapun yang ditimpa
masalah.

Karena itu, masalah terbesar dalam hidup adalah saat kita tidak mendapatkan
pertolongan Allah. Seberat apapun persoalan, akan menjadi ringan bila ditolong
Allah. Pertanyaannya, bagaimana agar kita layak ditolong Allah? Jawabannya ada
dalam QS Ath Thalaaq [65] ayat 2-3. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari
arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada
Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Jadi, kunci pembuka pertolongan Allah ada
dalam ketakwaan kita. Semakin takwa kita, semakin terbuka lebar pintu-pintu
pertolongan Allah. Sebaliknya, semakin ingkar kita, semakin tertutup rapat
pintu-pintu pertolongan Allah.\

Na'udzubillah. Imam Ibnu Atha'ilah menegaskan pesan takwa ini, "Jangan menuntut
Allah karena terlambatnya permintaan yang telah engkau panjatkan kepada-Nya.
Namun, hendaknya engkau koreksi dirimu, tuntut dirimu agar tidak terlambat
melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap Tuhanmu".

Saudaraku, ada banyak kewajiban yang harus kita tunaikan kepada Allah. Di
antara yang banyak tersebut ada beberapa amalan dasar, sekaligus kunci pembuka
datangnya pertolongan Allah. Saat kita mampu mengamalkannya dengan istikamah,
insya Allah kebaikan-kebaikan lainnya akan terbuka.

Pertama, mencintai masjid. Masjid adalah rumah Allah yang ada di bumi. Tidak
ada tempat yang paling dicintai Allah di bimi selain masjid. Pertolongan Allah
akan datang kepada siapapun yang cinta dan gemar memakmurkan masjid. Karena
itu, syarat pertama agar ditolong Allah adalah mencintai masjid. Pastikan tidak
shalat (wajib), kecuali di masjid. Lebih utama pula dengan shalat tepat waktu
dan berjamaah. Agendakan untuk menghadiri majelis-majelis dzikir di masjid.
Serta sisihkan sebagian rezeki untuk memakmurkan masjid.

Kedua, tahajud. Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat dicintai
Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa pada waktu tersebut, Allah Swt.
turun ke bumi dan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan hamba-hamba-Nya.
Tidak ada satu pun shalat sunnat yang begitu diperhatikan Rasulullah SAW
kecuali shalat tahajud. Sangat rugi orang yang menyia-nyiakan waktu sepertiga
malam terakhir. Sebab, ia telah menyia-nyiakan datangnya pertolongan Allah.

Ketiga, sedekah. Amalan ini sungguh luar biasa. Dengan bersedekah, rezeki akan
tambah melimpah dan berkah, urusan menjadi mudah, kita pun akan terhindar dari
musibah. Jaminan dari Allah demikian pasti kepada ahli sedekah. Maka, jangan
sia-siakan kesempatan beredekah. Pastikan tiada hari tanpa sedekah. Awali
hari-hari kita dengan bersedekah.

Keempat, bantu orang lain. Sesungguhnya Allah akan menolong orang-orang yang
gemar menolong saudaranya. Mudahkan pula urusan orang lain, niscaya Allah akan
memudahkan urusan kita. Pokoknya, tiada hari tanpa menolong orang lain. Dan
jangan pilih-pilih dalam menolong.

Kelima, banyak bershalawat kepada Rasulullah SAW. Rasul adalah manusia yang
paling dicintai Allah. Karena itu, cinta Allah akan kita dapatkan saat kita
mencintai hamba yang paling dicintainya. Bila Allah sudah cinta, pertolongannya
akan terbuka bagi kita. Wallaahu a'lam

Sebaik-baik Manusia menurut Hadist-Hadist Rasulullah

Manusia yang paling baik ialah yang paling baik ahklaknya.

Manusia yang paling baik adalah yang paling banyak membaca dan memahami agamanya, paling taqwa kepada ALLAH, yang paling banyak melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, dan paling suka menyambung tali persaudaraan.

Manusia yang paling baik ialah yang paling banyak manfaatnya untuk sesama manusia. Manusia yang paling baik ialah manusia yang paling baik dalam membayar hutangnya.

Manusia yang paling baik ialah manusia yang berhati tulus dan berlidah lurus.

Sahabat bertanya apa yang dimaksud berhati tulus ?

Rasul menjawab : hati yang taqwa, bersih tidak menyembunyikan dosa, tidak lalim dan tidak dengki.

Sesudah itu apa ?

Beliau menjawab, yang mengembangkan kehidupan dunia sambil tetap mencintai akhirat.

Ditanya lagi, sesudah itu apa ?

Rasul menjawab, mukmin dengan akhlaq yang baik.

Manusia yang paling baik ialah yang panjang usianya dan baik amalnya.



Yang paling baik diantara kamu ialah yang paling sederhana dalam dunia dan paling cinta kepada akhirat.

Yang paling baik diantata kamu adalah yang membela kepentingan keluarga selama tidak dalam dosa.

Yang paling baik diantara kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya.

Aku ( Rasul ) yang paling baik terhadap keluargaku, tidak akan memuliakan perempuan kecuali lelaki yang mulia, tidak merendahkan perempuan kecuali lelaki yang rendah pula.

Yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik terhadap isteri dan anak-anaknya.

Yang paling baik diantara kamu adalah yang selalu mempelajari Al’quran dan selalu mengajarkannya.

Yang paling baik diantara kamu adalah yang tidak meninggalkan akhirat karena dunianya dan tidak meninggalkan dunia karena akhiratnya dan tidak bergantung pada orang lain.

Yang paling baik diantara kamu ialah orang yang kalau kamu pandang mengingatkanmu kepada ALLAH, yang pembicaraannya menambah ilmu dan yang amalnya mengantarkanmu kepada akhirat.
Yang paling baik diantara ummatKu ialah orang yang bila engkau melihatnya engkau ingat kepada ALLAH.
Yang paling jahat diantara ummatKu ialah yang berjalan kesana kemari menyebarkan fitnah, mengadu domba orang yang saling mengasihi, berbuat kejam, menganggu orang tanpa tanggung jawab.
Yang paling baik diantara ummatKu ialah yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain ALLAH dan Aku adalah Rasulullah, yang apabila berbuat baik merasa bahagia,bila berbuat salah meminta maaf.
Yang paling jahat diantara ummatKu ialah yang lahir dan tumbuh besar ditengah kemewahan, lalu perhatiannya hanyalah macam-macam makanan, pakaian dan menyombongkan diri dalam pembicaraan.

Yang paling baik diantara ummatKu ialah para ulamanya.

Yang paling baik diantara ulamanya adalah yang paling penyanyang diantara mereka.

Ketahuilah, ALLAH akan mengampuni empat puluh orang alim sebelum mengampuni satu dosa orang jahil.

Yang paling baik diantara ummatKu adalah yang berdo’a sambil membawa manusia kepada kecintaan kepada-Nya.

Yang paling baik diantara orang islam ialah mereka yang orang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya.
Amal yang baik engkau tinggalkan dunia dalam keadaan lidahmua basah karena berzikir kepadaNya.
Amal yang paling baik adalah beriman pada ALLAH, kemudian berjihad, kemudian haji yang mabrur, cinta karena ALLAH, benci karena ALLAH, sholat pada waktunya dan berbuat baik pada orang tua, ilmu karena ALLAH.

Ilmu akan bermanfaat bersamamu dengan amalmu, baik amal itu sedikit maupun banyak.
Bekerja mencari nafkah secara halal, engkau masukan rasa bahagia kedalam hati saudaramu yang mukmin, engkau bayarkan hutangnya, engkau berikan dia makanan.
Amal yang paling utama iman pada ALLAH dan mencintai manusia.
Iman yang paling utama, engkau mencintai dan membenci karena ALLAH, engkau gerakan lidahmu untuk berzikir, engkau mencintai manusia seperti mencintai diri sendiri.
Engkau benci sesuatu menimpa manusia seperti engkau benci hal itu menimpa dirimu sendiri.